Effect terbalik “Like Bali Used to be”

Oleh: Erasmus Frans Mandato*

Indonesia menempatkan pariwisata sebagai potensi unggulan, hal ini bukan isapan jempol karena pemerintah mampu melakukan sebuah loncatan yang besar. Namun karena potensi dari Sabang sampai Merauke, dengan diversifikasi geografis kepulauan, alam tropis dukungan dengan destinasi unggulan, serta insan Indonesia dengan budaya ketimuran yang berlimpah keunikan peninggalan leluhur dan dapat disetarakan menjadi karakter budaya berkelanjutan.

Pembangunan pariwisata di Nusa Tenggara Timur mendapatkan sumbangsih baru sebagai The Next Bali, geliat dan pesona Labuan Bajo dengan satwa Komodo dan wisata bahari menjadi magnet yang konsisten bagi pencari tantangan dan menepi dari rutinitas, Pulau Sumba dengan geliat ritual Pasola, Pantai dan ombak selancar mewah untuk dikunjungi dan layak diusahakan, Alor dengan keindahan bawah laut terbaik di Nusa Tenggara Timur, Pulau Rote mendapatkan tempat yang nyaman di hati para pelancong dan kaum pemodal dengan tag line sesungguhnya like Bali use to be atau seperti Bali mula-mula.

Fenomena yang sedang terjadi di Bali saat ini bereskalasi bagi ikutan destinasi wisata Bali berikutnya, pemerintah pusat memandang dan mengandalkan Bali Sebagai pundi devisa bagi Indonesia, manakala paradoks pembangunan pariwisata Bali yang semakin masif belakangan menimbulkan banyak persoalan. Menurun minat kunjungan wisatawan disebabkan berbagai hal yang tidak terselesaikan dari masa ke masa. Pembangunan usaha jasa pariwisata dengan pertumbuhan kamar yang sangat menjulang, berbanding terbalik dengan stagnansi arus kunjungan yang berakibat okupansi kamar yang tidak terhunikan semakin melebar. Hal ini berujung pada pasar penjualan properti perhotelan semakin tinggi di Bali belakangan ini.

Akibat lanjutan yakni kerugian ganda yang dirasakan, pilihan tata kota yang harus dipertahankan mengingat bali dengan karakteristik budaya yang kental, berakibat pada pertumbuhan kendaraan bermotor yang tidak seimbang dengan infrastruktur akses Jalan, persoalan pengelolaan limbah dan sampah yang lambat dan tidak terintegrasi membawa hawa polusi dan pencemaran masif pada lingkungan.

Pemerintah pusat memandangnya sebagai ancaman yang serius bagi Indonesia bila tidak ada aksi pemecahan masalah, wacana menjadikan Bali sebagai pusat bisnis dan pariwisata mempedomani Dubai di Qatar, pernyataan menyentak apakah telah mendapatkan kajian memadai ataukah sebatas sebuah wacana yang masih  prematur sebagai langkah pemecah gelombang sementara yang menghantam Bali alias pengalihan masalah yang sulit terpecahkan, efikasi wacana yang sementara digerakkan, disikapi langkah integral oleh Pemerintah Bali yakni penertiban lahan sempadan pantai yang terjadi di area Bukit Jimbaran (Pantai Bingin) dengan alasan mengembalikan fungsi area publik sesungguhnya sehingga mengeliminasi bangunan penyedia usaha jasa pariwisata yang telah beroperasi sejak lama, hal ini menjadi urusan parsial di Kawasan Bali dari fungsi jalur hijau yang teralihkan sementara waktu namun sesungguhnya menyimpan misteri  selanjutnya, penertiban zona hijau serta langkah ikutan, bisa jadi sebuah langkah pengalihan sementara yang akan diperuntukan bagi kepentingan pengusaha yang dekat penguasa dengan mengakusisi zona hijau dimaksud. Masih dengan upaya mengendalikan investasi over surplus, Pemerintah Provinsi Bali melakukan moratorium bagi perusahaan baru, interpretasinya apakah ini murni untuk mempersiapkan Bali sebagai wisata bisnis. Mengembalikan keistimewaan Pulau Bali akibat over capacity  atau kedok penguasaan sumber daya oleh kelas pemilik modal super?

Preferensi yang sudah berlangsung bukan isapan jempol semata, peran penduduk lokal sebagai sasaran utama penerima manfaat serta sebagai subjek pembangunan dihadapkan pada peluang dan tantangan yang tidaklah mudah. Secara nasional hingga daerah, pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik melemah dalam tugas dan fungsi utamanya. Akumulasi kepentingan bisnis dalam politik mampu menggeser pemegang kebijakan meninggalkan pijakan utama yakni masyarakat sebagai pemegang kedaulatan, tidak adanya proteksi bagi masyarakat lewat edukasi dan pendampingan yang sungguh sebagai pemilik utama aset strategis, pengetahuan umum bisnis properti serta pengelolaan keuangan dan investasi menjadi celah investasi besar menyasar aset strategis, alias tertimpa durian busuk. Permintaan yang semakin meningkat akibat eskalasi Pembangunan pariwisata pada sentra pariwisata seperti halnya Pulau Bali, menjadi komoditas yang stagnan pada upaya mempertahankan kepemilikan lokal, sebuah daya tawar yang telah dimiliki secara turun temurun dapat ditingkatkan menjadi manfaat berkepanjangan. Sebagai contoh adanya penanaman modal asing yang awalnya adalah penyedia jasa pariwisata terus berkembang menjadi segmentasi investasi, muncul kesempatan berikutnya adalah jual beli aset tanah atau real estate, hal ini sangat berdampak pada pengalihan kepemilikan dengan status jual beli (Free Hold) secara masif yang melibatkan makelar setempat.  Aset tanah yang menjadi komoditas aktiva itu tidak serta merta menjadi basis investasi real, akan tetapi menjadi komoditas yang diperjualbelikan antara sesama investasi asing laksana bursa saham. Berpegang pada pandangan sederhana aset tanah adalah komoditas yang tidak akan mengalami penurunan nilai ekonomis jika dibandingkan logam mulia  Tanah adalah aset yang tidak dapat diperbaharui, kenyataan yang tak terbantahkan setelah teralihkan kepemilikan tidak akan lagi tumbuh kapling tanah berikutnya, sebagaimana logam mulia berasal dari tanah di bawah perut bumi yang lebih bernilai dari logam mulia itu sendiri.

Hilangnya kepemilikan lokal menjadi sebuah kesempatan yang menjerumuskan. Kurangnya edukasi dan komunikasi pintu masuk hilangnya aset utama masyarakat pribumi, pembangunan akan berlangsung secara cepat, budaya masyarakat yang masih terbatas pada persekutuan konsumtif berpotensi kehilangan daya saing yang kian menciptakan jurang pemisah antara segelintir pemilik modal asing dan masyarakat mayoritas, perputaran nilai lewat transaksi pembelian aset dengan tingkat penyerapan pengembangan ekonomi berkelanjutan menjadi taruhan yang terlalu mahal dikorbankan, harapan akan konversi pengalihan asset bagi pertumbuhan UMKM menemui jalan terjal. Pemanfaatan untuk belanja kegiatan produktif lain sangat diharapkan menjadi mindset dan perilaku baru, belanja konsumtif menjadi tidak terbendung, perputaran uang yang diharapkan berada tidak jauh untuk manfaat ganda malah teralihkan untuk belanja liabilitas sebagai contoh untuk rumah hunian yang adalah kebutuhan pokok bukan investasi produktif. Kepemilikan bisnis dan investasi yang diharapkan menjadi hal yang mahal untuk dicapai. Nilai-nilai dalam peradaban yang ditanamkan secara turun temurun lewat arisan, kumpul keluarga sangat bermanfaat bagi kehidupan sosial yang dibangun atas dasar kepedulian bukan transaksional, hal ini ikut membentuk solidaritas bagi aktifnya kepedulian. Ketika kesusahan dan masalah menimpa dalam keluarga dan komunitas. Tidak ada yang salah dalam implementasi praktek ini namun mindset dan perilaku produktif lah yang akan menambah kekuatan mempertahankan peradaban sosial dan ekonomi lokal berkelanjutan harapan dan kenyataan yang berjalan ditempat. Ketika sebuah kawasan dengan potensi unggul, Pembangunan menjadi titik temu program pemerintah mencari pundi pajak dan geliat investasi mendapatkan keuntungan maksimal.

Edukasi bukan sekedar literasi dan numerasi, praktek ilmu terapan menjadi arah yang lebih diperjelas, Selektif memahami dunia investasi serta membangun pemahaman kritis. Adanya glorifikasi pada daerah tertentu yang memiliki masyarakat yang taat menjalankan nilai spiritual, mengembalikan yang bukan miliknya serta damai menjaga kampung halaman lewat perilaku konsumtif, Kesan positif yang membawa kita pada bawa sadar yang nyaman, serta dianggap sebagai  persona yang paling ideal, Ketika mode ini terus diadopsi maka berpotensi terkikisnya keinginan untuk mengembangkan diri, berpikir kritis menjadi mahal atas ancaman yang sementara terjadi, apatisme yang menganggap sebagai fenomena yang biasa-biasa. Ruang yang kosong ini perlu diisi dengan diskusi yang membangun secara langsung dan konsisten. Perkumpulan yang sebatas pada permainan yang santai diselipkan dengan komunikasi yang interaktif, menjadi pengritik diri sendiri dan siap membangun sesama dengan saling menguatkan bahkan berkompetisi secara sehat dalam akal dan aksi nyata tanpa sikut-menyikut yang pada akhirnya saling menjatuhkan saudara sendiri dan gantinya menyusui saudara baru yang bakal menjadi musuh yang paling berbahaya.

Peran Pemerintah lebih sebagai pembatas antara kapitalisme dan masyarakat lokal, junjungan masyarakat lewat hak konsitusi hanya sebagai bypass kelanjutan. Eksistensi berpindah pada cengkeraman para pemilik modal super yang juga sebagai pemegang modal kampanye.  mereka yang merasa paling berjasa bagi kedudukan pelayan publik, alhasil  visi dan misi oligarki yang dikedepankan ketimbang visi misi pelaku pelayan publik 5 Tahunan, banyak aset lahan kosong tersedia di kabupaten Rote Ndao dengan primadona pariwisata minat khusus dijadikan target yang harus diakusisi. Pemerintah diatur melanggar aturan yang disepakati bersama representasi publik, model perencanaan berbasis risiko yakni master plan, tata ruang yang adalah barometer memetakan rancangan capaian bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat berada pada wacana dan pembahasan tanpa finalisasi, kenyataan kawasan idaman Rote Barat dibiarkan berjalan auto pilot, tanpa memiliki tata ruang, semua aset tidak menjadi strategis di mata masyarakat namun dimata para oligarki inilah permainan penguasaan sumber daya aset dan akses bagi kepentingan mereka dengan nilai seadanya. Masyarakat hanya sebagai alat produksi (Pekerja) diatas hak milik yang telah dimanipulasi, dengan skenario perkawinan sejenis penguasa dan pengusaha.

Apa Kata dan Karsa yang bisa dibanggakan untuk menyatukan keterpisahan ruang pikir akibat kepentingan pemilik modal super  yang berusaha menguasai dengan mendramakan persoalan yang dapat menciptakan friksi alias Devide et Impera yang didaur ulang menjadi  strategi penjajahan ekonomi masa kini, Bila Pulau Bali dengan kekuatan magis sebagai Nusa Dewata yang nyata, kekuatan spiritual penghuni aslinya, Budaya yang saling menjaga, administrasi desa adat yang memiliki peran sentral menghubungkan antara pemerintah dan masyarakat adat, pada hari ini kekuatan pembangunan yang tidak terbendung telah menguasai melampaui kekuatan kearifan lokal dan peradaban asli orang Bali, Apakah Nusa Tenggara Timur lebih khusus kabupaten Rote Ndao dengan primadona wisata Rote Barat mampu merasa persoalan ke depan atau merasa mampu mengelola loncatan perubahan yang menggeser separuh peradaban asli penduduk Nusak Delha saat ini? Ketika akal dan Akhlak menutup relasi antar manusia yang mulanya bersama maka relasi baru hanya akan menjadi oportunitas yang membunuh pada saat yang tepat hingga menjadi Hamba di Negeri Sendiri bukan sebagai Pulau Bali Mula-mula (like Bali Used to be).(*)

*Pendiri Yayasan Fatuovak – Desa Nemberala, Kec Rote Barat, Kab. Rote Ndao

 

Berita lainnya:

WNI Kelahiran Sorong Tewas di Palagan Ukraina

Tinggalkan Balasan