Raja yang Melupakan Rakyat

Oleh: Felix Nesi*

Raja-raja di setiap sonaf Timor adalah pemimpin masa lalu. Kekuasaan mereka sudah berakhir, tetapi mereka masih memegang kepemimpinan secara adat. Kadang itu disertai dengan pengaruh politis.

Tetapi hari-hari ini, kebanyakan upacara-upacara adat dikembalikan kepada keluarga yang membutuhkan. Pendoa datang dari masing-masing keluarga. Urutan ritual tertentu kadang mengikuti saja aturan suku. Kadang juga tergantung mako’annya. Kalau mako’an agak mabuk, dia ngawur saja, ritual jadi sembarangan saja.

Masyarakat Timor bisa dibilang sungguh berjarak dari pemimpin adat, dari sonafnya… Padahal masyarakat tiap hari menjalankan adatnya. Mulai dari mau tanam, mau panen, mau sekolah, mau apa saja ada doanya.

Tapi Pemimpin Adatnya kadang hilang di saat-saat yang sebenarnya masyarakat butuh.

Contoh pertama. Tahun 2021 itu, Gereja Katolik Keuskupan Atambua mengeluarkan selebaran yang melarang ritual helketa. Katanya itu praktik superstisi dan mistis-magis.

Masyarakat ramai debat di media dan di kampung-kampung. Sampai sekarang masyarakat masih jalankan, diam-diam, di belakang punggung Gereja. Yang sebenarnya, yang paling bisa menjelaskan apa itu helketa, dan ritual-ritual lain sejenis, itu adalah orang-orang di sonaf. Raja-raja kita ini.

Tapi apa yang dilakukan raja-raja? Tidak ada. Tidak ada satupun pernyataan. Tidak ada usaha untuk mediasi dengan keuskupan dan menjelaskan apa itu helketa. Apa itu ritual. Apa itu budaya Timor.

Contoh kedua, persoalan belis. Belis ini banyak orang mengeluh karena semakin tahun semakin naik… dan tidak ada aturan pastinya. Kadang keluarga pikir ambil satu angka dia sudah taruh.

Orang debat kiri kanan. Tapi toh juga tetap anggap itu adat harus dijalankan. Begitu juga dengan upacara adat, kematian, kelahiran. kadang orang tunda kubur karena adat belum selesai.

Dan orang-orang yang harusnya paling bisa jelaskan hal itu adalah sekali lagi SONAF. Sonaf harus berdiri sebagai penjaga adat. Harus menjelaskan kepada anak muda yang baru naik badan dan mulai kritis. Kenapa kita harus terus menjalankan adat. Jelaskan agar bisa dipahami. Agar dijalankan dengan cinta. Agar adat kita tetap terpegang teguh dan kita tidak jadi manusia bingung yang tidak tahu adat. Itu tugas SONAF.

Tapi sonaf kita hari ini lebih fokus untuk angkat raja-raja baru untuk kita. Raja-raja baru yang kita juga agak bingung fungsinya apa. Selain hanya untuk dulang suara di tempat kita.

Bukan berarti penganugerahan Jokowi itu tidak penting. Mungkin penting. Mungkin juga tidak penting sama sekali, bisa diperdebatkan.

Tapi yang sudah pasti penting adalah, SONAF harus lebih hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Bukan tunggu mau dekat Pemilihan baru tiba-tiba muncul raja baru dari sonaf. (*)

*Sastrawan Nusa Tenggara Timur

** Artikel ini diambil dari unggahan status di akun pribadi Facebook penulis.

 

 

 

 

 

Berita lainnya:

BNN Dukung Penguatan Penegakan Hukum

Dari Mulyono ke Mulyadi, Nalar Politik yang Tetap Kerdil

Tinggalkan Balasan