Oleh: Dr. Daryono*
GEMPA berkekuatan M7,3 yang mengguncang Laut Maluku pada pagi hari ini kembali mengingatkan kita bahwa kawasan ini bukan sekadar perairan biasa, melainkan salah satu zona tektonik paling kompleks dan aktif di dunia. Di balik guncangan tersebut, tersimpan sejarah panjang aktivitas gempa dan tsunami yang membentuk wajah pesisir di utara Indonesia.
Zona Laut Maluku dikenal unik karena berada dalam sistem subduksi ganda—lempeng yang “terjepit” dari dua arah. Kondisi ini menciptakan tekanan luar biasa yang kerap dilepaskan dalam bentuk gempa bermekanisme sesar naik (thrust). Mekanisme inilah yang paling efektif dalam mengangkat dasar laut secara tiba-tiba, sehingga berpotensi memicu tsunami.
Jika menengok ke belakang, catatan sejarah menunjukkan bahwa wilayah ini telah berulang kali mengalami tsunami, meski umumnya dalam skala lokal hingga menengah. Pada tahun 1845 di Kema, Minahasa Utara, gelombang laut tercatat dua kali menggenangi daratan dan tiga kali surut jauh hingga ke pemecah ombak. Peristiwa serupa berlanjut pada 1857 dan 1859, ketika tsunami bahkan mampu mengangkat material hingga mencapai atap bangunan di pesisir.
Memasuki akhir abad ke-19 hingga abad ke-20, kejadian tsunami masih terus berulang, seperti di kawasan Kepulauan Sangihe–Talaud (1871), Laut Maluku (1899), hingga Halmahera Utara (1927). Meski sebagian besar berdampak terbatas, pola kejadian ini menegaskan bahwa energi tektonik di kawasan ini tidak pernah benar-benar “diam”.
Dalam periode yang lebih modern, tsunami kecil tercatat mengikuti gempa-gempa signifikan, seperti tahun 1965, 1996, hingga kejadian di sekitar Halmahera pada 2014 dan 2019. Bahkan peristiwa besar di kawasan regional seperti tsunami Mindanao 1976 turut memberikan dampak hingga wilayah utara Indonesia, menunjukkan keterkaitan dinamika tektonik di kawasan ini.
Dari rangkaian sejarah tersebut, terlihat pola yang konsisten: tsunami di Laut Maluku umumnya berskala kecil hingga menengah dan bersifat lokal. Namun justru disitulah letak bahayanya. Banyak wilayah pesisir dan pulau kecil berada sangat dekat dengan sumber gempa, sehingga waktu tiba tsunami bisa hanya dlm hitungan menit, tanpa bnyk kesempatan untuk peringatan dini.
Gempa M7,3 pagi ini perlu dipahami dalam konteks tersebut. Meski tidak selalu diikuti tsunami besar, karakter mekanisme sumber yang dominan berupa thrust fault tetap menyimpan potensi deformasi vertikal dasar laut. Selain itu, kemungkinan pemicu tambahan seperti longsoran bawah laut juga tidak bisa diabaikan.
Kawasan Laut Maluku mungkin tidak sepopuler zona megathrust Sumatra dalam hal tsunami besar, tetapi sejarah telah menunjukkan bahwa wilayah ini tetap aktif dan berisiko. Kombinasi antara sumber gempa yang dekat, mekanisme yang mendukung pembangkitan tsunami, serta kondisi geografis pesisir menjadikannya wilayah yang memerlukan kewaspadaan tinggi.
Gempa hari ini bukan hanya peristiwa sesaat, tetapi bagian dari dinamika panjang bumi yang terus berlangsung. Dan dari sejarah yg ada, satu pesan penting selalu berulang: waspada adalah kunci utama keselamatan di wilayah rawan gempa dan tsunami seperti Laut Maluku. (*)
*anggota Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN)
