Oleh : Stef Yurzal E Wondiwoy CFP *
Belakangan ini, kita disuguhi adegan yang begitu mengharukan. Pemerintah dengan alis berkerut layaknya seorang kepala rumah tangga yang kehabisan uang belanja mulai menggencarkan narasi “efisiensi anggaran.” Setiap mata pisau dipakai untuk mengorek pos-pos yang dianggap “mewah.” Perjalanan dinas dipangkas, seminar-seminar berganti zoom, hingga pembelian alat tulis kantor diperketat bagai warung kelontong yang sedang bangkrut.
Di satu sisi, kita patut bertepuk tangan. Efisiensi adalah nasihat bijak yang sudah lama tertidur pulas di rak birokrasi. Namun, ada satu hal yang lucu sekaligus menusuk perut: kita efisien di dalam negeri, tapi tetap “boros” dalam ketergantungan kepada negara lain.
Negara ini diberkahi Tuhan dengan kekayaan alam yang absurd. Mulai dari batu bara yang melimpah, sawit yang menghijau, nikel yang jadi rebutan dunia, hingga gas dan emas yang mengalir deras. Kalau diibaratkan, kita ini anak kos yang punya kulkas penuh stok lauk pauk dari kiriman orang tua, tapi setiap hari memilih makan mi instan pesan dari tetangga sebelah dengan harga tiga kali lipat.
Lalu, di mana letak ironi “efisiensi” yang satir ini?
Efisiensi anggaran menjadi terasa seperti sandiwara ketika kita masih dengan bangga mengimpor kebutuhan pokok yang sebenarnya bisa kita hasilkan sendiri. Beras, garam, gula, hingga pangan strategis lainnya masih menjadi teman setia dalam daftar impor. Bahkan, di saat nilai tukar rupiah sedang sakit-sakitan, kita masih memaksa tubuh untuk memakan makanan yang harus diterbangkan dari seberang samudra. Kita efisien dengan menekan belanja pegawai, tapi tidak efisien dalam menjaga pundi-pundi devisa agar tidak terus mengalir ke ladang orang lain.
Kita juga pandai memotong anggaran pembangunan infrastruktur desa, namun tidak segan-segan memberikan insentif fiskal besar-besaran untuk investor asing yang mengolah sumber daya alam kita setengah jadi, lalu menjualnya kembali kepada kita dalam bentuk barang jadi yang mahal. Ini seperti kita memiliki kebun mangga, tetapi membayar orang lain untuk memetik mangga kita, lalu membeli mangga olahan dari mereka dengan harga selangit. Lalu kita efisien dengan mengurangi biaya pupuk. Ajaib.
Yang lebih jenaka, efisiensi seringkali hanya menyasar hal-hal yang terlihat, seperti acara seremonial atau rapat di hotel berbintang. Sementara kebocoran anggaran yang struktural seperti tingginya biaya logistik akibat ketergantungan impor, atau besarnya subsidi energi yang dinikmati oleh industri yang justru menyedot devisa tetap dibiarkan menganga.
Kita seperti orang yang sibuk mematikan lampu kamar mandi untuk hemat listrik, tapi membiarkan keran air di halaman mengucur deras sepanjang hari.
Efisiensi bukan hanya tentang mengurangi nominal dalam dokumen DIPA. Efisiensi adalah tentang mengurangi kerentanan. Negara yang kaya sumber daya alam seharusnya memiliki posisi tawar untuk tidak terus menerus bergantung pada rantai pasok global yang bergejolak. Jika kita masih harus bergantung pada negara lain untuk urusan perut dan industri dasar, maka sehemat apa pun anggaran kita, kita hanya sedang mempercantik neraca tanpa memperkuat fondasi.
Jadi, mari kita tertawa getir sejenak. Di satu ruangan, menteri berbicara tentang pemotongan anggaran untuk pembelian meja kursi. Di ruangan lain, kapal kontainer berisi bahan baku dan barang konsumsi merapat ke pelabuhan, membawa aliran uang yang jauh lebih besar ke luar negeri. Dan kita menyebutnya efisiensi.
Ya, efisiensi yang baik adalah ketika kita tidak hanya pandai mengencangkan ikat pinggang, tetapi juga pandai memasak sendiri di dapur kita. Karena jika tidak, sekeras apa pun kita mengencangkan ikat pinggang, pada akhirnya kita akan kelaparan sambil memegang emas batangan di tangan.
* Pemerhati kebijakan politik negara, tinggal di Manado, Sulawesi Utara.
