Oleh: Bruce Nitte*
Banyak orang mengira inflasi selalu lahir dari kesalahan pemerintah daerah atau sekadar ulah pedagang di pasar. Padahal dalam ekonomi modern, ada jenis inflasi yang datang dari luar negeri dan dampaknya langsung menghantam kehidupan rakyat. Fenomena itu disebut imported inflation atau inflasi impor.
Indonesia adalah negara yang masih bergantung pada banyak barang impor: BBM, bahan baku industri, gandum, kedelai, obat-obatan, hingga teknologi. Ketika harga dunia naik atau rupiah melemah terhadap dolar, maka biaya impor otomatis meningkat. Akibatnya harga barang di dalam negeri ikut terdorong naik.
Rakyat kecil sebenarnya paling cepat merasakan dampaknya. Harga transportasi naik, sembako ikut naik, biaya produksi UMKM meningkat, bahkan harga listrik dan logistik bisa ikut terdorong. Dalam kondisi seperti ini, inflasi bukan lagi sekadar angka statistik Bank Indonesia, tetapi sudah masuk ke dapur rumah tangga.
Ironisnya, masyarakat sering tidak memahami bahwa sebagian kenaikan harga berasal dari tekanan global. Ketika perang, krisis energi, atau gangguan rantai pasok dunia terjadi, negara-negara berkembang seperti Indonesia menjadi pihak yang paling rentan. Ekonomi nasional akhirnya seperti “menanggung demam” dari penyakit ekonomi global.
Melemahnya rupiah juga memperparah keadaan. Karena perdagangan internasional banyak memakai dolar Amerika, maka setiap pelemahan rupiah membuat biaya impor semakin mahal. Negara yang terlalu bergantung pada barang luar negeri akan mudah terkena guncangan semacam ini.
Di sinilah pentingnya kemandirian ekonomi nasional. Negara tidak bisa terus bergantung pada impor untuk kebutuhan strategis. Produksi pangan, energi, industri dasar, dan teknologi harus diperkuat agar Indonesia tidak selalu menjadi korban gejolak ekonomi global.
Imported inflation memberi pelajaran penting: kedaulatan ekonomi bukan sekadar slogan politik. Negara yang lemah dalam produksi akan mudah “mengimpor krisis” dari luar negeri, dan rakyatlah yang akhirnya membayar harga paling mahal.
*Sekretaris APINDO Rote Ndao
